Rabu, Mei 20, 2009

SURAT CINTA DARI KADER DA’WAH
Oleh : ikhwah Sandal Jepit*)

“Hari ini kita telah melalui sebagian perjalanan yang panjang dan berliku serta penuh onak dan duri yang selalu bangga kita sebut dengan jalan da’wah. Namun adakah saudara kita yang tertinggal di belakang? Atau pernahkah kita mencoba untuk melihatnya? atau Pernahkah kita berniat untuk kembali ke belakang untuk menjemputnya? Apakah kita takut atau gengsi-kah kita dengan keadaannya? atau Begitu pelitkah kita untuk menunjukkan jalan yang sebenarnya pada mereka? Atau kita tidak mau membagi bekal yang selama ini kita peroleh dari berbagai macam tarbiyah dalam perjalanan ini kepada mereka? Terlepas dari benar dan salahnya, saya ingin mengajak pengurus Forstudi 08/09 untuk berhitung diri. Silahkan lihat kondisi kader da’wah (Pengurus Forstudi) yang awalnya berjumlah 83 org dan dalam perjalanan pergi entah kemana”.
Satu episode da’wah memang telah dilalui oleh pengurus Forstudi 89, namun beban yang sama masih dipundak kita (da’i) – sampai kapanpun -. Biarlah Allah saja yang akan menilai seberapa besar kontribusi kita dalam da’wah ini, “yang penting ikhlas, kemudian biarlah terjadi apapun yang akan terjadi (Abu Musya Al Musy’aari)”. Dan keikhlasan aktivis da’wah jangan pernah dipertanyakan atau jangan pernah menilainya selagi engkau masih bergelar “MANUSIA”.
Saat ini kita memang sedang menapaki jalan para nabi, jalan yang selalu membawa kita pada keterasingan dunia, namun dalam sebuah hadits Rasul mengatakan bahwa bagi siapa yang terasing karena memegang sunnahku (da’wah) maka ia akan bersama-sama ku di shorga nantinya. Jadi, jangan pernah salahkan orang yang menganggap kita sedang berjalan di jalan yang selalui ditapaki oleh para Nabi (karena memang seperti itulah adanya). Tidak ada yang terlalu berat dalam menapaki jalanan ini.
Allah berfirman : “ Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya….” (QS.Al baqarah: 286). Kuncinya adalah azzam di jiwa dan kesabaran aktivis da’wah. Memang terkadang kita menemui beberapa rintangan namun itu adalah ujian keimanan, terkadang kita menemukan orang yang tidak konsisten dengan da’wahnya, itu lah tugas kita untuk menjemputnya dan meluruskannya kembali (jangan panggil dengan kata Pecundang Da’wah).
Tidak ada yang ingin memilih keluar dari jama’ah da’wah, tidak ada! Karena da’wah itu adalah hal yang indah, indah karena Ukhuwah bukan saling Cerca, indah karena Itsar (Memuliakan dan mendahulukan saudara) bukan malah mementingkan diri sendiri (Egois), dan el el. Kalaupun ada yang hijrah, itu bukan soal, bisa jadi hijrahnya menuju tempat yang lebih baik, lebih dapat menyejukkan hatinya atau lebih dapat menjaga keikhlasan dalam da’wah. Analoginya pernah Allah diriwayatkan dalam kisah seorang yang bertobat dan hijrah ke tempat lain karena ia telah membunuh 100 orang di kampungnya itu, dan setengah lebih satu langkah ia dimatikan oleh Allah, setelah itu dihitung langkah kakinya dan ternyata Allah memutuskan ia masuk ke shorga – subhanallah -. Dan kita harapkan saudara kita yang ingin hijrah tersebut niatnya adalah menuju Allah. Untuk itu kita sebagai Ikhwanya jangan terlalu memperturutkan persangkaan hati kita karena sebagian prasangka itu dosa.
Untukmu kader da’wah 09/10. tetaplah istiqomah, maksimalkan usaha dan hasilnya kita serahkan pada Allah. Jangan sibukkan dirimu dengan hal – hal yang tiada berguna, jangan terlalu sibuk membicarakan kekurangan dan kesalahan saudaramu, jangan terlena oleh fasilitas SAPS yang ada, jangan tertipu oleh jumlah yang banyak ketika mengangkatkan kegiatan. Janganlah engkau menjadi seperti lalat yang selalu menemukan luka yang berada di tubuh manusia sekalipun tempatnya tersembunyi dan sekalipun orang tersebut sudah berusaha untuk membersihkan dan mengobati lukanya, tetapi jadilah seperti lilin yang selalu menerangi tanpa takut kehilangan cahayanya sendiri. Mohon ma’af jika ada kata - kata saya yang salah, pada Allah saya minta ampun. Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*) Mantan Pengurus Forstudi 08/09

“Pergerakan BEM FATETA 2009”
Oleh : Phobi Kevin*)

Alhamdulillahirabbil’alamin. Segala puji hanya kepada Allah kita ucapkan atas nikmat yang telah banyak kita terima hingga saat sekarang ini. Salah satunya adalah terlahirnya Fakultas baru di Unand, yaitu FATETA (Fakultas Teknologi Pertanian) yang kemudian akan menyusul juga terbentuk sebuah lembaga yang dapat menampung aspirasi dan juga sebagai wada aktualisasi minat dan bakat Mahasiswa Teknologi Pertanian kedepannya. Amin. Shalawat dan salam kita hadiahkan kepada baginda Muhammad SAW, berkat perjuangan beliau-lah kita bisa merasakan kesempatan menjadi hamba – hamba yang beriman dan bertaqwa hanya pada Allah.

Sebuah rekonstruksi baru segera lahir di Fakultas ini yang akan menampung segala aspirasi mahasiswa, yang akan menegakkan keadilan di Fakultas kita, sehingga terciptanya kesejahteraan yang selalu kita impikan. Sudah saatnya mahasiswa mampu berkontribusi aktif dalam pembangunan masyarakat Indonesia. Pertanyaannya adalah “Seberapa besar kepedulian dan keprofesionalan kita dalam hal tersebut?”.

Mahasiswa Fakultas Pertanian mempunyai potensi besar untuk melejit, bahkan bisa mengalahkan lontaran roket dari pelontarnya, karena kita ini pemuda!!. Pergerakan sekecil apapun akan mampu membuat perubahan besar bagi Negara ini. Oleh karena itu jika memang saya nanti teramanahkan menjadi pemimpin lembaga tertinggi BEM Fateta kedepan, maka ada beberapa hal yang sudah sepatutnya saya kerjakan. Pada paragraph berikutnya akan saya coba untuk menjelaskannya per point.

BEM merupakan lembaga tertinggi yang terdapat di Fakultas. Ia mampu mengawasi, mengadvokasi, dan mampu membuat kebijakan serta membuat keputusan strategis dalam dunia Mahasiswa dan lembaganya.

BEM sudah semestinya bekerja ekstra keras dalam mengapresiasikan aspirasi mahasiswa. Salah satunya adalah menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengawas. Dalam hal ini pengawasan yang dilakukan adalah berhubungan dengan kepentingan mahasiswa Teknologi Pertanian. Pengawasan yang dilakukan pertama sekali adalah tentang pemberian hak mahasiswa oleh pihak dekanat yang terkait tentang fasilitas dan sarana pendidikan yang mereka peroleh, sepertinya misalnya fasilitas laboratorium, optimalisasi fungsi workshop, atau bahkan tentang jam perkuliahan yang sangat mengganggu waktu beribadah muslimpun akan coba saya konsultasikan dengan para dosen atau pihak yang terkait lainnya. Tentu apa yang saya tulis ini belumlah sempurna, tetapi saya mencoba menyajikan potensi terbaik saya pada mahasiswa TP semuanya. Hidup Mahasiswa…!!!


Fungsi advokasi, merupakan sarana Mahasiswa dalam menyampaikan hak-haknya yang belum terpenuhi atau pelayanan yang kurang memuaskan dalam pengambilan haknya tersebut, misalnya saja dalam pengurusan beasiswa, dll. BEM Fateta kedepan akan lebih optimal untuk yang satu ini.

Fungsi aktuaklisasi. BEM Fateta 2009 akan memperhatikan tentang aktualisasi mahasiswa yang tergabung dalam kepengurusannya atau pun yang tidak. Aktualisasi diri dan kelompok merupakan kebutuhan tertinggi seorang manusia. Oleh sebab itu, saya akan coba rumuskan beberapa hal yang akan saya lakukan satu tahun ini.
Pertama, BEM akan menjaring dan membentuk kepengurusan yang lebih professional dan solid.
Kedua, program kerja yang dibuat bukan hanya terkait permasalahan regional saja, tetapi masalah global sehingga mahasiswa mampu meng-up grade dirinya. Seperti isu hemat energi. Hal tersebut sangat selaras dengan bidang kajian kita di TP, dalam hal ini saya akan adakan sebuah event yang dapat membuka mata dunia agar lebih hemat dalam penggunaan energi. Tidak kalah penting adalah saya akan menghidupkan budaya menulis mahasiswa dengan mengadakan pelatihan, seminar dan perlombaan kepenulisan tingkat Mahasiswa karena secarik tulisan jauh lebih tajam dari pada mata pedang yang terhunus. Dan seterusnya.

BEM sebagai lembaga pengambil keputusan. Keputusan yang diambil menyangkut kepentingan lembaga mahasiswa. Ada 3 pertimbangan yang saya ambil sebagai langkah strategis. Pertama, persetujuan akan diberikan kepada hal yang baik dan bermanfaat serta tidak melanggar hukum dan agama. Kedua, persetujuan akan diberikan untuk kegiatan yang tidak dapat mencemarkan dan berimplikasi buruk terhadap pergerakan mahasiswa. Ketiga, keputusan akan diberikan untuk kegiatan yang dapat menampung seluruh kepentingan mahasiswa dan aspirasinya.

Tidak banyak yang dapat saya kerjakan. Bersama kita bisa usung perubahan. Rekatkan ukhuwah, kita usung perubahan di TP.



JAIM ¡!!( Jujur, Amanah, Intelektual dan Membara ¡!! )

*) Tulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk mencalon diri menjadi Ketua BEM Fateta Unand


Ada Apa di balik Pembentukan BEM Fateta ?
Oleh : PHOBI KEVIN*)
Sebuah konstruksi baru tentang pergerakan mahasiswa yang terangkum dalam wadah BEM Fateta hampir saja terbentuk. Namun, fakta dan realitanya mengatakan hal yang berbeda, karena pada awalnya BEM Fateta ini target pembentukannya adalah pada bulan Mei oleh tim Formatur. Tetapi semua target tersebut terpaksa “disimpan” dulu “dikantong besarnya” tim Formatur karena terjadi sedikit turbulensi pada tubuh mahasiswa itu sendiri. Memang benar apa yang ditulis oleh saudari saya Putri Nuzul Huda tersebut, bahwa ada sebagian Mahasiswa yang terkesan ingin memperlambat jalannya tim Formatur ini. Tetapi demi menjalankan tugas demokrasinya tim Formatur tidak mau mengambil langkah sepihak dengan tetap menjalankan pemira Fateta. ”Sekarang semuanya sudah terlanjur, mau tidak mau, kita harus selesaikan juga pembahasan UU Kema Fateta ini secara bersama” ujar salah seorang anggota Formatur.
Saya melihat ada sedikit keraguan dalam diri sebagian Mahasiswa Fateta terhadap kinerja tim formatur yang terkesan bekerja secara “sepihak”. Buktinya ketika kampanye dialogis cagub beberapa minggu yang lalu ada beberapa argument dari mahasiswa yang mendiskripsikan hal itu. Wal hasil UU Kema Fateta Unand harus dibahas secara bersama oleh mahasiswa Fateta.
“Sebenarnya rancangan UU tersebut sudah dibuat oleh Formatur dan tidak perlu lagi dibahas secara pleno oleh mahasiswa Fateta karena perancangan dan penetapan tersebut memang tugas yang telah diamanahkan kepada kami (melalui SK dari Dekanat)” lanjutnya. Tim Formatur juga merupakan representative dari tubuh mahasiswa teta seluruhnya, karena ia telah mewakili suara setiap angkatan dan termasuk juga pengurus Himateta, namun kenapa keraguan tersebut masih ada ? dan kenapa ketika Sidang Umum yang pertama tidak banyak dari mahasiswa “kritis” ketika kampanye dialogis cagub lalu yang datang untuk pembahasan UU tsb? Ada apa di balik pembentukan BEM Fateta ?
Jawablah wahai mahasiswa!!
Mahasiswa Fateta membisu setelah satu bulan pengunduran Pemira ini. Membisu karena tidak tahu dan tidak mau tahu atau juga tidak tahu bahwa ia tidak tahu…!!! Banyak orang yang pandai berbicara dan tidak banyak yang bisa berbuat, banyak yang bisa berbuat tetapi sedikit yang bersungguh – sungguh. Itulah realitanya kita hari ini. Bangkitlah wahai mahasiswa, tersadarlah, kita butuh segera kepemimpinan ini…!!!
Kebutuhan akan BEM Fateta saat ini sudah mencapai titik kritisnya, apalagi dilihat dari sudut waku yang tersedia. Hassan al Banna (Ulama Mesir) katakan “Kewajiban itu lebih banyak daripada waktu yang tersedia”.
Ada beberapa alasan menurut saya kenapa kita harus menyegerakan Pemira ini :
1. sebentar lagi Ujian AKHIR SEMESTER. Ini akan menghambat jalannya pemira karena mahasiswa akan lebih terfokus pada hal itu, diakui atau tidak, tujuan kita datang ke kampus ini memang untuk kuliah dan tamat dengan IPK yang BAIK.
2. sebentar lagi Angkatan 2006 KKN. Nah, dalam pemira tentu kita sangat membutuhkan partisipasi dari seluruh mahasiswa, jika KKN sudah berjalan (Insya Allah Juli – Agustus 2009) tentu akan banyak kita kehilangan suara nantinya.
3. sebentar lagi mahasiswa baru 2009 masuk. Segala kebutuhan akan mahasiswa baru sudah sepenuhnya diserahkan pada fakultas baik dana dan kegiatannya, atau masih maukah kita serahkan pembinaan BAKTI 2009 mahasiswa FATETA kepada BEM Faperta ?
4. waktu kita tinggal bulan ini.....!!!
Harapan saya sangat tinggi kepada tim Formatur untuk dapat segera menyelesaikan tantangan ini untuk membentuk BEM Fateta dan memilih ketuanya melalui Pemira 1 nanti.
Kita tidak akan bisa INDEPENDEN, NETRAL DAN UNIVERSAL tanpa ada cita – cita bersama. Kita diciptakan Allah berbeda untuk saling mengenal bukan berjalan dengan kenetralan sendiri, karena sebenarnya yang netral tersebut tidak ada..!! kita sendiri pun pasti membawa kepentingan saudara kita, jadikanlah diri kita adalah pribadi yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain. Kita harus menjadi seorang yang tidak sekedar Independen, NETRAL dan Universal tetapi kita harus membawa cita – cita bersama baru bisa dikatakan Universal. Setiap orang yang masuk dalam kancah politik membawa kepentingan Politiknya masing – masing, jadi tidak ada yang netral disini...! tetapi apapun kepentingan politik yang kita bawa, hendaknya itu dapat membuat kita berlaku adil sebagai pemimpin agar terciptanya kesejahteraan mahasiswa FATETA ke depan. Insya ALLAH. Wallahu’alam bishshowab.

*) Calon Gubernur Bem Fateta no. 1 dan juga termasuk dalam daftar Tim Formatur

LOMBA NASIONAL PENULISAN CERITA FIKSI KEAGAMAAN TAHUN 2009
2 05 2009
Buat kawan-kawan semua, kembali saya infokan lomba menulis yang untuk satu ini diadakan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan
Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama Republik Indonesia. Tapi khusus lomba ini hanya untuk tingkat MI/SD,MTs/SMP,MA/SMA/SMK. Bagi kawan-kawan pelajar yang senang menulis dan punya bakat di bidang tersebut gak ada salahnya untuk menambah pengalaman…. Berikut infonya…
Tema Lomba
“Beriman dan Bertaqwa di Tengah Perubahan Sosial”
Tema Penulisan
“Mewujudkan Generasi Beriman, bertakwa dan berakhlakul karimah di tengah perubahan sosial”
Kriteria Peserta
• Peserta Lomba terdiri atas peserta didik jenjang MI/SD,MTs/SMP,MA/SMA/SMK
• Setiap peserta lomba hanya dibolehkan mengirimkan satu naskah pada setiap jenjang
• Peserta bukan sebagai tim penilai dan panitia pelaksana serta pegawai Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama
• Peserta belum pernah menjadi pemenang pada lomba sejenis
Kriteria Cerita
• Cerita fiksi keagamaan adalah cerita yang ditulis berdasarkan imajinasi pengarang dan boleh didasarkan pada kisah nyata (real story) yang direkayasa atau cerita yang disadur/digubah dari cerita-cerita keagamaan dan lain sebagainya (semisal: fabel/cerita tokoh-tokoh agama dll)
• Relevan dengan tujuan pendidikan agama di madrasah/sekolah.
• Isi naskah/cerita sesuai untuk dibaca peserta didik di madrasah/sekolah (MI/SD,MTs/SMP dan MA/SMA/SMK).
• Mendukung atau sejalan dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan agama di madrasah/sekolah.
• Membangun daya inovasi dan kreativitas peserta didik dalam mengembangkan kecerdasan emosional, spiritual dan pengalaman nilai-nilai keagamaan.
Kriteria Naskah
• Berupa naskah tertulis dan disajikan secara runtut, lugas dan tuntas (tidak bersambung).
• Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
• Naskah belum pernah diikutkan dalam kegiatan lomba sejenis atau tidak sedang diikutsertakan dalam lomba lain.
• Isi naskah tidak bernuansa pornografi dan bertentangan dengan nilai-nilai agama.
• Naskah asli (karya sendiri) dan belum pernah diterbitkan dan atau dipublikasikan di media massa.
• Naskah cerita untuk peserta jenjang MI/SD minimal 20 halaman, MTs/SMP minimal 30 halaman dan MA/SMA/SMK minimal 40 halaman dan diketik di atas kertas A4 dengan jarak baris 1,5 spasi, font Times New Roman.
• Menyertakan identitas lengkap, meliputi: nama, alamat lengkap, foto copy KTP/kartu pelajar, nomor telepon/hp yang mudah dihubungi, judul naskah dan sasaran naskah (MI/SD,MTs/SMP dan MA/SMA/SMK).
• Melampirkan surat pernyataan keaslian naskah bermaterai 6000,- dengan dibubuhi tanda tangan penulis dan diketahui kepala madrasah/sekolah.
• Bersedia menerima sanksi hukum apabila naskah terbukti hasil plagiasi dan atau terjemahan.
Pengiriman Naskah
• Naskah diterima panitia selambat-lambatnya tanggal 31 Juli 2009 (cap pos).
• Naskah dikirim dalam bentuk asli (bukan foto copy) sebanyak 2 eksemplar dan disertakan soft copy (CD atau Flashdisk), dikirim kepada Panitia Lomba Nasional Penulisan Cerita Fiksi Keagamaan.
• Naskah tidak dikembalikan dan menjadi hak milik Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan.
Tim Penilai
• Tim Penilai ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan.
• Tim penilai terdiri atas 1 orang ketua, 1 orang wakil ketua, 1 orang sekretaris, dan beberapa orang anggota.
• Tim penilai bertanggung jawab terhadap hasil penilaian lomba.
• Keputusan tim penilai tidak dapat diganggu gugat, kecuali bila dikemudian hari diketahui naskah yang terpilih merupakan hasil plagiasi atau terjemahan.
Aspek Penilaian
• Pesan cerita
• Bahasa
• Relevansi cerita
• Orisinalitas
• Tampilan naskah
Penetapan Pemenang
• Pemenang ditetapkan melalui sidang penetapan pemenang yang dihadiri tim penilai berdasarkan penilaian naskah dan presentasi peserta.
• Jumlah pemenang sebanyak 6 naskah untuk masing-masing jenjang, terdiri dari Juara I,II,III serta harapan I,II dan III (MI/SD,MTs/SMP dan MA/SMA/SMK).
Pengumuman Pemenang
• Pemenang lomba akan diumumkan pada minggu kedua bulan Agustus 2009.
• Pemenang akan dihubungi panitia untuk menghadiri presentasi dan upacara penyerahan hadiah.
Hadiah
• Total hadiah sebesar Rp. 132.000.000,-
• Pajak hadiah ditanggung pemenang.
• Hadiah diberikan untuk 6 orang juara pada setiap jenjang pendidikan (MI/SD,MTs/SMP dan MA/SMA/SMK).
• Ketentuan penghargaan dan hadiah sebagai berikut:
Juara I
Piagam penghargaan, Piala/Plakat
Uang Tunai : Rp. 10.000.000,-
Juara II
Piagam penghargaan, Piala/Plakat
Uang Tunai : Rp. 8.000.000,-
Juara III
Piagam penghargaan, Piala/Plakat
Uang Tunai : Rp. 6.000.000,-
Juara Harapan I
Piagam penghargaan, Piala/Plakat
Uang Tunai : Rp. 4.000.000,-
Juara Harapan II
Piagam penghargaan, Piala/Plakat
Uang Tunai : Rp. 3.000.000,-
Juara Harapan III
Piagam penghargaan, Piala/Plakat
Uang Tunai : Rp. 2.000.000,-
Hak Cipta
• Hak cipta ada pada penulis naskah
• Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama berhak menerbitkan naskah pemenang untuk satu kali penerbitan.
PANITIA LOMBA NASIONAL PENULISAN CERITA FIKSI KEAGAMAAN
Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan
Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama Republik Indonesia,
Gedung Bayt Al-Qur’an – Museum Istiqlal TMII
Jl. Taman Mini I Jakarta Timur 13560
Telp. (021) 87790141, Fax (021) 87797930